Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts

Thursday, July 6, 2017

Besoknya Menikah Malah Bernasib Tragis, Kisah Perempuan Yang Diculik Di Hari Pernikahannya

Besoknya Menikah Malah Bernasib Tragis, Kisah Perempuan Yang Diculik Di Hari Pernikahannya

Ketika Terry Gobanga tidak muncul dalam acara pernikahannya, tak ada seorang pun yang menduga bahwa ia telah diculik, diperkosa dan ditinggalkan dalam keadaan nyaris meninggal di pinggir jalan. Ini adalah yang peristiwa pertama dari dua tragedi untuk menimpa sang pendeta muda dari Nairobi itu. Berikut Terry mengisahkannya kepada BBC.
Hari itu adalah hari pernikahan saya. Saya adalah seorang pendeta, jadi semua jemaat gereja kami datang, begitu pula semua saudara kami. Tunangan saya, Harry, dan saya sangat senang. Kami menikah di Katedral All Saints di Nairobi dan saya sudah menyewa sebuah gaun yang cantik.
 Terry Gobanga
Namun pada malam sebelum pernikahan, saya baru menyadari bahwa pakaian Harry, termasuk dasinya tertinggal di rumah saya. Ia tidak bisa menikah tanpa mengenakan dasi. Karena itu, seorang teman yang menginap malam itu menawarkan untuk mengantarkan pakaian ke rumah Harry di pagi hari. Kami bangun pagi-pagi buta dan saya mengantarnya ke stasiun bus.
Saat saya kembali ke rumah, saya berjalan melewati seorang pria yang sedang duduk di atas kap mobil. Tiba-tiba ia menarik saya dari belakang dan merebahkan saya di kursi belakang. Ternyata ada dua pria menunggu di dalam mobil, dan mereka langsung mengemudikan mobil. Semuanya terjadi dalam sepersekian detik.
Mulut saya disumpal dengan potongan kain yang saya kenakan. Saya menendang, memukul dan mencoba menjerit. Ketika saya berhasil membuka mulut saya yang dibungkam, saya berteriak: "Ini hari pernikahan saya!" Saat itulah saya mendapat pukulan pertama. Salah seorang pria itu menyuruh saya untuk "bekerja sama atau saya akan mati".

Laki-laki itu bergantian untuk memperkosa saya. Saya yakin saya akan mati, tapi saya masih berjuang agar tetap hidup. Ketika salah seorang pria melepas kain yang menyumpal mulut saya, saya langsung menggigit alat vitalnya. Ia menjerit kesakitan, lalu salah satu dari mereka menusuk perut saya. Kemudian mereka membuka pintu dan menendang saya keluar dari mobil yang tengah melaju.
Saya berada di tempat yang ratusan kilometer jaraknya dari rumah, di luar kota Nairobi. Lebih dari enam jam berlalu sudah sejak saya diculik.
Seorang anak melihat saya dibuang di jalanan dan memanggil neneknya. Orang-orang datang berlarian. Ketika polisi datang, mereka mencoba memeriksa nadi saya, namun tak ada seorang pun yang bisa mendengar detak jantung saya. Mereka pikir saya sudah mati, lalu membungkus badan saya dengan selimut dan mulai membawa saya ke kamar mayat.
Tapi dalam perjalanan ke sana, saya tersedak dalam selimut dan terbatuk. Polisi itu berkata, "Ia masih hidup?" Dia kemudian memutar balik kendaraannya dan mengantar saya ke rumah sakit pemerintah terbesar di Kenya.
Saya tiba di rumah sakit dalam keadaan terguncang, bergumam tak jelas. Saya setengah telanjang dan berlumuran darah, dan wajah saya bengkak karena ditinju. Tapi ada sesuatu yang mengingatkan seorang kepala perawat, karena dia menduga saya adalah seorang pengantin perempuan.
"Mari kita tanya ke gereja-gereja untuk mencari tahu apakah mereka kehilangan pengantin perempuan," katanya pada para perawat.
Terry Gobanga
Secara kebetulan, gereja pertama yang mereka hubungi adalah All Saints Cathedral. "Apakah Anda kehilangan seorang pengantin perempuan?" tanya perawat itu.
Lalu pengurus gereja mengatakan: "Ya, ada pernikahan jam 10 dan pengantin perempuan tidak datang."
Ketika saya tidak datang ke gereja, orang tua saya panik. Orang-orang pun disebar untuk mencari saya. Desas-desus beredar. Beberapa orang bertanya-tanya: "Apakah ia berubah pikiran?" Sementara yang lainnya mengatakan: "Tidak, ini bukan sifat dia, apa yang terjadi?"
Setelah beberapa jam, mereka akhirnya harus membongkar dekorasi karena ada upacara lain yang akan dilangsungkan. Harry, sang pengantin laki-laki menunggu di ruang lain di dalam gereja.
Ketika mereka mendengar tentang keberadaan saya, orang tua saya datang ke rumah sakit bersama seluruh rombongan. Harry membawa gaun pengantin saya. Namun peristiwa ini sudah didengar media, jadi ada banyak wartawan di sana.
Saya dipindahkan ke rumah sakit lain sehingga saya memiliki lebih banyak privasi. Di sanalah para dokter menjahit luka-luka yang saya serita dan memberitahu saya kabar buruk: "Luka tusukan menembus jauh ke dalam rahim Anda, jadi Anda tidak bisa punya anak."

Saya diberi obat kontrasepsi, juga obat antiretroviral untuk melindungi saya dari HIV dan AIDS. Pikiran saya tertutup, menolak menerima apa yang telah terjadi.
Harry terus mengatakan bahwa ia masih ingin menikah dengan saya. "Saya ingin menjaganya dan memastikan ia kembali sehat dalam pelukan saya, di rumah kami," katanya. Sejujurnya, saya tidak berada dalam posisi untuk mengatakan 'Ya' atau 'Tidak', karena pikiran saya dijejali dengan wajah ketiga pria itu, dan dengan segala sesuatu yang telah terjadi.
Beberapa hari kemudian, saat obat penenang mulai berkurang, saya bisa menatap matanya. Saya terus meminta maaf. Saya merasa telah mengecewakannya. Beberapa orang mengatakan itu merupakan kesalahan saya sendiri yang telah meninggalkan rumah di pagi hari. Sungguh menyakitkan, tapi keluarga saya dan Harry mendukung saya.
Polisi tidak pernah menangkap para pemerkosa itu. Saya menanti dan menanti, tapi saya tidak mengenali satu pun dari para pemerkosa itu, dan itu menyakitkan bagi saya. Saya memulihkan kondisi saya - 10 langkah maju, 20 mundur. Pada akhirnya saya kembali ke kantor polisi dan berkata: "Saya sudah selesai, saya hanya ingin menyelesaikannya."
Tiga bulan setelah serangan itu terjadi, saya diberitahu bahwa saya negatif terkena HIV dan saya sangat bersemangat, tapi mereka mengatakan bahwa saya masih harus menunggu tiga bulan lagi untuk memastikannya. Meski begitu, Harry dan saya mulai merencanakan pernikahan kedua kami.
Meski saya sangat marah dengan gangguan pers, seseorang membaca kisah saya dan meminta untuk menemui saya. Namanya Vip Ogolla, dan ia juga seorang korban perkosaan. Kami berbicara, dan ia mengatakan kepada saya bahwa dirinya serta dan teman-temannya ingin menggelar pernikahan saya, tapi saya tidak perlu keluar uang sepeser pun. "Lakukan apa saja, apapun yang kamu mau," katanya.
Saya sangat gembira. Saya bisa memilih berbagai kue pesta, yang lebih mahal. Selain bisa menyewa gaun, saya pun bisa memiliki baju pengantin lainnya.
Pada Juli 2005, tujuh bulan setelah pernikahan kami yang pertama direncanakan, Harry dan saya menikah dan pergi berbulan madu.
 Terry Gobanga
Selang 29 hari kemudian, di suatu malam yang dingin, kami berada dalam rumah. Harry menyalakan kompor arang dan membawanya ke kamar tidur. Setelah makan malam, ia memindahkannya karena ruangan itu benar-benar hangat. Saya berada di bawah selimut saat ia mengunci rumah. Saat di tempat tidur ia mengatakan merasa pusing, tapi kami tidak pikir tidak ada apa-apa.
Malam itu begitu dingin, sehingga kami tidak bisa tidur, jadi saya menyarankan untuk membawa selimut lagi. Tapi Harry mengatakan ia tidak bisa membawanya karena tidak kuat. Anehnya, saya juga tidak bisa beranjak. Kami menyadari ada yang tidak beres. Ia pingsan. Saya pingsan. Saya ingat saya memanggilnya. Saat itu ia merespons saya, namun kemudian ia tidak merespon lagi.
Saya memaksa diri saya untuk beranjak dari tempat tidur dan muntah, yang memberi saya kekuatan. Saya mulai merangkak ke arah telepon. Saya menelepon tetangga saya dan berkata: "Ada yang tidak beres, Harry tak sadarkan diri."
Tetangga saya langsung datang, tapi butuh waktu lama untuk saya merangkak ke pintu depan agar ia bisa masuk saat aku pingsan. Saya melihat sekelompok orang datang, menjerit. Dan saya ambruk tak sadarkan diri lagi.
Saya terbangun di rumah sakit dan bertanya dimana suami saya berada. Mereka bilang mereka sedang merawatnya di kamar sebelah. Saya berkata: "Saya adalah seorang pendeta, saya telah melihat cukup banyak dalam hidup saya, saya ingin Anda terus terang kepada saya." Dokter menatap saya dan berkata, "Maaf, suamimu tidak tertolong."
Saya tidak bisa mempercayainya.

Kembali ke gereja untuk pemakaman adalah hal yang sangat mengerikan. Baru sebulan yang lalu saya ke sana dengan gaun putih, bersama Harry berdiri di depan dan terlihat tampan dengan jasnya. Kini, saya mengenakan pakaian serba hitam dan melihat suami saya dimasukkan ke dalam peti mati.
Orang-orang mengira saya telah dikutuk dan mereka menjauhkan anak-anaknya dari saya. "Ada pengaruh buruk yang dalam dirinya," kata mereka. Pada satu titik, saya benar-benar mempercayainya.
Sedangkan yang lainnya menuduh saya telah membunuh suami saya. Itu membuat saya sangat sedih karena saya sedang berduka.
Hasil autopsi menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi. Suami saya meninggal akibat keracunan karena karbonmonoksida yang memenuhi paru-parunya, ia tercekik dan tersedak.
Saya hancur berkeping-keping. Saya merasa dikecewakan oleh Tuhan, saya merasa dikecewakan semua orang. Saya tidak percaya bahwa orang bisa tertawa, pergi keluar dan hanya menjalani hidup. Saya terpuruk.
Suatu hari saya sedang duduk di balkon melihat burung-burung berkicau dan saya berkata: "Tuhan, bagaimana kau bisa merawat burung-burung ini tapi saya tidak?"
Pada saat itu saya ingat ada 24 jam dalam sehari - duduk dalam keadaan depresi dengan gorden tertutup. Tanpa terasa sudah seminggu, sebulan, setahun terbuang sia-sia. Itu adalah kenyataan yang sulit.
Saya mengatakan kepada semua orang bahwa saya tidak akan pernah menikah lagi. Tuhan mengambil suami saya, dan rasa kehilangan itu terlalu banyak. Itu adalah sesuatu yang tidak saya inginkan pada siapa pun. Rasa sakitnya luar biasa.
Tapi ada satu orang - Tonny Gobanga - yang terus berkunjung. Ia mendorong saya untuk berbicara tentang suami saya dan memikirkan masa-masa indah. Suatu saat ia tidak menelepon selama tiga hari dan saya sangat marah. Saat itulah saya tersadar bahwa saya telah jatuh cinta padanya.
 Terry Gobanga
Tonny ingin meminang saya, tapi saya menyuruhnya untuk membeli majalah, membaca kisah saya dan memberitahu saya apakah ia masih mencintai saya. Ia kembali dan mengatakan bahwa ia masih ingin menikahi saya.
Tapi saya mengatakan kepadanya: "Dengar, ada hal lain - saya tidak bisa punya anak, jadi saya tidak bisa menikah denganmu."
"Anak-anak adalah anugerah dari Tuhan," katanya. "Jika kita mendapatkannya, Amin. Jika tidak, saya akan punya lebih banyak waktu untuk mencintaimu."
Saya berpikir: "Wow," Jadi saya menerima pinangannya.
Tonny pulang untuk memberi tahu orang tuanya, mereka sangat gembira, sampai mereka mendengar cerita tentang saya. "Kamu tidak bisa menikahinya, ia sudah dikutuk," kata mereka. Ayah mertua saya menolak menghadiri pernikahan, tapi kami tetap melanjutkannya. Ada 800 tamu yang datang ke pernikahan kami, mereka yang datang kebanyakan diliputi rasa penasaran.
Tiga tahun sudah pernikahan pertama saya berlalu dan saya sangat takut. Saat pemberkatan di gereja, saya berpikir: "Saya di sini lagi, Bapa, tolong jangan biarkan ia mati." Saat jemaat berdoa untuk kami, tangis saya pecah.
Setahun setelah kami menikah, saya merasa tidak enak badan dan pergi ke dokter. Yang mengejutkan dokter mengatakan saya hamil.
Seiring berjalannya bulan, saya diberi banyak istirahat, karena bekas luka tusukan di rahim saya. Tapi semua berjalan dengan baik, dan kami memiliki bayi perempuan yang kami namai Tehille. Empat tahun kemudian, kami memiliki seorang bayi perempuan, kami beri nama Towdah.

Kini, saya dan ayah mertua saya menjadi teman baik.
Saya menulis sebuah buku, berjudul Crawling out of Darkness(Merangkak di Kegelapan) yang mengisahkan tentang berbagai cobaan berat yang saya alami, untuk memberi harapan kepada orang-orang untuk bisa bangkit kembali.
Saya juga mulai merintis sebuah organisasi bernama Kara Olmurani. Kami bekerja dengan para penyintas perkosaan, bukan korban perkosaan. Kami menawarkan konseling dan dukungan. Kami ingin membangun sebuah rumah bagi mereka agar mereka bisa datang dan menemukan pijakan sebelum kembali menghadapi dunia.
Saya sudah memaafkan orang-orang yang memperkosa saya. Itu memang tidak mudah tapi saya menyadari tidak bermanfaat marah kepada orang-orang yang mungkin tidak peduli. Agama saya mengajarkan untuk memaafkan dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tapi dengan kebaikan.
Yang paling penting adalah berduka. Melaluinya. Marahlah sampai Anda bersedia melakukan sesuatu tentang situasi Anda. Anda harus terus maju, merangkak jika harus melakukannya. Tapi teruslah maju meraih takdir Anda karena takdir sudah menunggu, dan Anda harus berjalan dan mendapatkannya.

Sumber: BBC





Polisi Ini Menilang Sang Mantan Lalu Memberi Pelajaran Sangat Berharga Bagi Sang Mantan


Priitttt.......!! Priiiiitt....
"Tolong tunjukkan SIM nya!" Kata seorang Polantas setelah menghentikan sebuah mobil yang menerobos lampu merah.
Dengan wajah kesal si pengemudi berkata : "Maaf pak, saya tahu saya salah, tapi tolong pak jangan ditilang, saya sedang buru-buru karena anak saya ulang tahun hari ini". Sambil cemas pengemudi yang bernama Lusi itu menatap wajah polisi tersebut yang ternyata adalah mantan pacar semasa SMA nya dulu.
"Lho.. bukankah kamu si Adi..?? Kita pacaran dulu pas SMA, masih ingat tidak...!!"
Sambut Lusi dengan nada lega.
Tapi Adi si Polisi tersebut hanya tersenyum sambil tetap bersikukuh meminta SIM si Lusi.
Dengan kecewa Lusi pun memberikan SIM nya kemudian langsung masuk ke dalam mobil & menutup kaca pintunya rapat-rapat.
Sementara Adi menulis sesuatu di kertas tilangnya. Beberapa saat kemudian, Adi mengetuk kaca pintu mobil Lusi.
Sambil memandangi wajah Adi penuh kecewa, Lusi pun membuka kaca pintu mobilnya, hanya sedikit, hanya cukup untuk selipkan kertas tilang aja.
ADI pun memberikan kertas lewat kaca yang terbuka yang hanya sekitar 2 cm itu lalu pergi tanpa kata.
Lusi pun kembali menjalankan mobilnya dengan tergesa-gesa.
Sambil menggerutu kesal, dia membuka kertas tersebut, tapi...
"Hei, apa ini? Kenapa SIM saya dikembalikan.. Dan ini kertas apa..??" Gumam Lusi.
Segera Lusi membuka kertas pemberian Adi tersebut, dan ternyata Adi tidak menilangnya, tapi justru menulis surat yang isinya :
"Hai Lusi..
Kau tahu, dulu saya juga punya anak. Cuma satu-satunya..
tapi meninggal karna ditabrak orang yang menerobos Lampu Merah. Pengemudinya hanya dihukum 3 tahun. Setelah bebas ia dapat berkumpul dan bisa memeluk anaknya lagi.
Sementara saya...
Saya tidak lagi dapat melihat apalagi memeluk anak saya.
Beribu kali saya mencoba untuk memaafkan si pengemudi itu tapi tidak bisa.
Maafkan saya Lusi, hati-hati di jalan. Titip salam buat keluargamu..
Dan selamat ulang tahun buat anakmu!
LUSI pun serta merta menghentikan mobilnya dan berlari kembali ke tempat di mana tadi sang sahabat menilangnya, tapi Adi sudah tidak ada di Pos nya lagi.
Sepanjang jalan perasaan hati Lusi tak menentu, berharap kesalahannya dapat dimaafkan.
Kawan.....
Tidak selamanya pengertian kita sama dengan pengertian orang lain. Terkadang SUKA kita justru DUKA buat orang lain.
Kalau anda sayang dengan orang yang di sekitar anda, berbagilah cerita ini.
Selalu berhati-hatilah di jalan, jangan mudah emosi dan slalu waspada karena jalan raya bukan buat kita saja..
40 km/jam itu sudah cukup cepat bukan..?????
HATI-HATILAH.. KARENA KELUARGA DI RUMAH MENANTI KEDATANGAN ANDA...

Niatnya Cuma Numpang Di Tempat Kakak Ipar Namun Cewek Ini Malah Di Manfaatkan Sang Kakak

Cerita ini adalah kisah nyata hidupku yang tega mengkhianati saudara sendiri. Pengalaman cinta bersama kakak ipar membuatku lupa bahwa dia adalah suami kakakku yang telah membiayai diriku sampai dewasa.

Kini yang tersisa adalah penyesalan meskipun godaan dari kak Dody selalu membuat imanku goyah.

Cerita kakak ipar
Aku menemukan situs ini secara tidak sengaja ketika sedang mencari-cari informasi lowongan pekerjaan.
Kupikir ini adalah situs biasa saja ternyata setelah kubaca enak juga, isinya curhatan semua. Dan akupun berpikir untuk menulis sedikit kegundahan hatiku disini.
Aku tahu, masalahku bermula dari kondisi ekonomiku yang sangat pas-pasan yang membuatku numpang tinggal di rumah kak Dewi untuk menghemat pengeluaran.
Dan tanpa aku sadari, keputusanku ini adalah awal cerita dari rentetan kisah hidupku yang begitu kubenci tapi tak bisa kutinggalkan.
Ceritaku bermula ketika aku memutuskan tinggal di rumah kak Dewi yang berada di tengah kota. Sejak melahirkan bayinya yang pertama, kak Dewi kewalahan mengatur waktunya antara suami, anak, rumah dan pekerjaannya di kantor.

Numpang Tinggal di Rumah Kakak Ipar

Aku yang saat itu masih berstatus sarjana muda sama sekali tidak berpikir dewasa, aku sama sekali tidak berniat mencari pekerjaan.
Waktu itu aku berpikir mencari uang adalah kewajiban suami dan tugas istri adalah menjaga rumah dan mendidik anak. Keinginanku untuk ikut kak Dewi diterima baik olehnya dan kak Dody, suaminya. Hitung-hitung aku mengisi waktu daripada di rumah saja tidak ada kegiatan.
Aku pikir aku sudah dewasa jadi bisa menentukan hidupku sendiri, lagian tentu menyenangkan bisa bermain-main dengan kemenakan yang lagi lucu-lucunya.
Teman-temanku menyebutku cantik dan mudah bergaul, itulah mungkin yang membuatku cepat akrab dengan orang disekitar, kemenakan dan suami kakakku juga akrab denganku.
Aku tidak terburu-buru ingin menikah sebab selama ini pria-pria yang kukenal selalu minta yang aneh-aneh.
Aku wanita normal dan sudah dewasa, tentu saja memiliki kebutuhan bilogis tapi aku tidak pernah memiliki niat melakukannya dengan pria yang bukan suamiku. Meski banyak teman yang bercerita tentang aktifitas percintaan mereka tapi tidak membuatku tertarik melakukannya.
Aku senang di rumah Kak Dewi, suaminya juga tidak membatasi gerakku, bahkan kak Dody sering memberiku uang untuk keperluan pribadiku, aku jadi tambah semangat di rumah mereka.
Di rumah kak Dewi semua fasilitas lengkap dan bisa kugunakan, bahkan aku diajar mengendarai mobil oleh kak Dody, katanya supaya aku bisa ke supermarket untuk belanja sendiri.
Jika kak Dewi dan suaminya ke kantor, akulah yang menguasai rumah, aku bisa nonton dvd atau makan sepuasnya, yang penting aku bisa menjaga kemenakanku dan kebersihan rumah.
Pekerjaanku bisa dikatakan mudah sebab aku sudah terbiasa di rumahku yang dulu, sejak kecil sampai dewasa aku memang dididik untuk disiplin bekerja.
Menjaga anak kecil usia dua tahun paling cuma menyiapkan susu dan makanan, atau kalau menangis cukup digendong atau di ayun. Yang paling berat adalah menyiapkan makanan untuk kak Dewi dan suaminya.
Aku tahu mereka pasti lapar sepulang kerja, jadi sebisa mungkin segala tetek bengek makanan sudah harus selesai sejak maghrib.
Aku juga diberi uang bulanan yang cukup, bukan hanya oleh kak Dewi tapi juga kak Dody, mereka memang pasangan yang sangat baik. Jumlahnya lumayan untuk beli baju dan kosmetik.
Mereka bahkan bilang kalau aku boleh tetap tinggal di rumah mereka meskipun nanti aku sudah menikah. Rumah kak Dewi memang sangat luas dan sangat bisa ditinggali oleh dua keluarga.
Kamarnya saja ada tujuh buah, ditambah ruang tamu dan keluarga yang lumayan besar membuat rumah terasa sepi jika hanya mereka yang tinggali.

Ketika Bencana itu Tiba

Bencana menimpaku saat aku memasuki bulan ke sepuluh di rumah kak Dewi. Saat itu suami kak Dewi kecelakaan, pembaca yang di Jakarta pasti tahu kecelakaan yang dialami kak Dody karena beritanya sangat luas waktu itu.
Luka kak Dody termasuk parah karena kakinya patah sehingga dia harus istirahat total di rumah selama tiga bulan. Karena kak Dewi bekerja, maka akulah yang melayani kak Dody di siang hari.
Semua kebutuhan kak Dody aku siapkan mulai dari makan, minum sampai mengantarnya ke toilet untuk buang air kecil. Kak Dewi memang wanita karir, ia baru tiba di rumah setelah malam tiba, bahkan terkadang sampai pagi.
Dari keseringan menemani kak Dody aku merasa ada yang aneh, diam-diam kak Dody selalu memperhatikanku dengan seksama, caranya memandang tidak seperti biasanya, aku bahkan tahu dia sedang menatap bokongku jika aku membelakanginya.
Aku sadari itu tapi aku berusaha menyembunyikannya dan bertindak biasa saja. Lama kelamaan kak Dody semakin berani, secara sengaja dia sering memegang tanganku atau bahkan merayuku.
Aku hanya diam dan berusaha menghindar, aku selalu ingat kak Dewi dan kupikir itu cuma gurauan kak Dody semata.
Hingga suatu siang, ketika aku terlelap di kamarku, aku merasa ada beban yang sangat berat menindih tubuhku.
Aku kaget dan berusaha melepaskan diri, tapi semakin aku bergerak semakin sulit aku bergerak, bahkan pakaianku bagian bawah sudah lepas tanpa aku sadari. Tidak kuasa aku melawan dan akhirnya mas Dody….
Itulah awal petualangan seru yang kualami bersama mas Dody, kakak iparku sendiri. Hubungan terlarang itu masih sering kujalani bersamanya sampai sekarang, tidak ada lagi keinginan berontak seperti dulu, aku lupa kalau kak Dody adalah kakak iparku.
Kami melakukan hubungan dewasa itu seperti tak ada batasnya. Jika mengingat kak Dewi aku menangis dan meraung, aku merasa berdosa.
Aku menangis setiap malam, memohon ampun dan memohon diberi kekuatan untuk bisa melepaskan diri dari kak Dody.
Sekarang aku berusaha sekuat tenaga menghindari kakak iparku, meskipun godaan darinya sangat kuat, aku harus bisa meninggalkan kak Dody demi kebahagiaan kakakku.
Semoga aku diberi kekuatan dan kepada pembaca ceritacurhat.com aku ucapkan terimakasih telah membaca cerita ini. Aku mohon doa dan masukan dari semua rekan pembaca.